Belajar Bahasa Inggris di Negeri Letterland

Alkisah, tersebutlah negeri yang dihuni berbagai macam makhluk yang hidup dengan penuh keceriaan. Negeri bernama Letterland itu dipenuhi beragam jenis permainan yang membuat anak-anak yang tinggal di sana selalu bersuka cita.

Di negeri khayal itu anak-anak bisa berkenalan dengan 25 karakter utama yang lucu-lucu, dua di antaranya ialah Annie Apple dan Zig Zag Zebra. Masing-masing karakter itu diambil dari penggambaran makhluk hidup di dunia nyata yang memiliki suara sangat khas.

Misalnya saja, burung yang kerap mengeluarkan bunyi cericit, anjing yang digambarkan dengan tokoh Peter Puppy mengeluarkan bunyi “puh”, dan kucing bernama Clever Cat yang kerap mengeluarkan suara “keh”.

Letterland ternyata bukan negeri dongeng biasa. Ketika anak-anak yang duduk di Play Group atau Taman Kanak-Kanak (TK) mengunjungi negeri itu, bukan hanya kesenangan berfantasi yang mereka peroleh, tetapi juga peningkatan kemampuan membaca dan menulis bahasa Inggris.

Memang bukan perkara mudah mengajari anak-anak balita berbahasa Inggris, apalagi di Indonesia bahasa Inggris bukanlah bahasa utama (first language), melainkan hanya merupakan bahasa kedua. Oleh karena itu, dibutuhkan metode pengajaran khusus yang bisa memudahkan anak-anak memahami bahasa asing itu.

Menurut psikolog yang juga Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) Seto Mulyadi, pembelajaran bahasa Inggris bagi anak-anak usia dini sebaiknya dilakukan dengan cara yang “ramah” terhadap anak.

Suasana belajar dibuat dalam bentuk informal, lekat dengan suasana bermain, menggunakan alat peraga, serta metode penyampaian yang menyenangkan.

Seto yang akrab dipanggil dengan Kak Seto itu mencontohkan materi-materi yang diberikan bisa dilengkapi dengan gambar-gambar. Pengajar juga bisa menyampaikan materi pelajaran sambil mendongeng, bernyanyi, atau menonton film yang kesemuanya disampaikan dalam bahasa Inggris.

Salah satu metode pengajaran bahasa Inggris yang memenuhi kriteria “ramah” terhadap anak ialah metode phonics.

Sebenarnya di negara-negara yang bahasa ibunya bahasa Inggris, sistem itu sudah dikenalkan sejak lama. Berbeda halnya dengan di negara-negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya, metode itu belum begitu populer.

Menurut Anty Nindi, staf pengajar di Tumble Tots Playgroup with Letterland, Yogyakarta, sistem phonics merupakan suatu sistem atau metode yang bertujuan memberi landasan membaca bagi anak-anak usia dini dengan menyuarakan bunyi dari huruf yang ada. “Huruf-hurufnya juga memiliki karakter tertentu dan tentu saja memiliki nama yang khas,” ujarnya.

Ada banyak program belajar bahasa Inggris untuk anak usia dini yang menggunakan sistem itu. Beberapa di antaranya ialah Family Readers by Family Literacy, Hooked on Phonics, Jolly Phonics, Letterland, dan Alphaphonics.

Dari beberapa metode itu, yang paling populer di Indonesia ialah metode Letterland yang diciptakan oleh Lyn Wendon dari Inggris. Metode itu menampilkan negeri imajinasi bernama Letterland yang dipenuhi dengan karakter-karater menarik. Karakter-karakter itu selalu merupakan perpaduan dari huruf dan karakter animasi.

Secara prinsip, metode pengajaran membaca dengan menggunakan sistem phonics berbeda dengan metode pada umumnya yang selalu dimulai dengan mengeja (spelling) huruf-huruf. Dalam metode pengajaran membaca biasa, anak kerap diminta mengeja huruf a yang dibaca ei, b dibaca bunyi bi, c dibaca si, dan seterusnya.

Namun, menurut Nindy, pada metode phonics, guru akan mengenalkan huruf-huruf sebagai karakter yang ada di negeri Letterland. Misalnya saja huruf b yang dikenalkan sebagai karakter yang bernama Bouncy Ben dengan suaranya yang khas yakni /bek/.

Memang, tambah Nindy, bunyi-bunyi huruf yang berdasarkan karakter tokoh itu tidak ada hubungan logis dengan abjad yang ada.



26 Karakter

Ke-26 huruf yang dibuatkan nama dan karakternya masing-masing itu hanya untuk memudahkan anak mengingat huruf dan membuat karakter tersebut seakan-akan hidup. “Pembelajaran bahasa Inggris dilakukan melalui beragam kegiatan, seperti menyanyi, mementaskan drama, bercerita, atau membacakan puisi. Semua kegiatan itu difokuskan pada bunyi suara,” ujar Nindy.

Lebih lanjut, Nindy menerangkan dalam sesi pembelajaran itu, anak-anak diminta membuka halaman-halaman yang ada dalam buku Letterland. “Misalnya saja, ketika anak-anak membuka halaman Clever Cat, guru akan mengatakan ‘clever cat says keh keh keh.’

Nah, dari situ guru akan merangkaikan cerita yang isinya mempertemukan clever cat dengan karakter-karakter lain yang memunyai bunyi sama, misalnya cow, cake, cafe,” terang Nindy. Selama satu tahun, tambahnya, anak-anak diajarkan 26 karakter dasar yang sekaligus menjadi kumpulan vocabulary.

Pembelajaran bahasa Inggris dengan metode Letterland juga diterapkan di JAC School, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Menurut Maya Puspitasari, pengajar Play Group 2 JAC School, dengan menggunakan metode itu, dalam waktu satu tahun anak-anak didik bisa menghafal semua karakter, bentuk huruf, serta bunyi huruf.

Metode Letterland juga dinilai menawarkan suatu sistem pembelajaran yang terintegrasi. Pasalnya, anak-anak didik tidak hanya diberikan pelajaran bahasa Inggris, tetapi juga pelajaran moral, sosial, dan ilmu pengetahuan yang biasanya disisipkan dalam cerita.

Pada tahun berikutnya, pembelajaran difokuskan pada keterampilan membaca. Melalui penggabungan karakter-karakter yang ada di Letterland, anak-anak dilatih terbiasa merangkaikan kata sehingga membentuk suatu cerita. Nindy mencontohkan suatu kisah yang disampaikan dalam bahasa Inggris: one day Diffi Dog go out walking in Letterland. And then Red Robot accompany her.

Impy Ink want to join them also, oh Peter Puppys also join them. So, how do they says when they go together?
Kata-kata yang ada dalam cerita itu, menurut Nindy, mengandung pelajaran mengenai percampuran konsonan.

Dalam cerita itu, suara khas dari masing-masing karakter-karakter, seperti Diffi Dog, Red Robot, Impy Ink, dan Peter Puppys juga disampaikan pengajar kepada anak-anak.

Suara Diffi Dog, misalnya, digambarkan dengan /dek/, Red Robot dengan suara /errrr/, Impy Ink bersuara /iiiiiiiii/, dan Peter Puppys berbunyi /puh/. Dengan metode seperti itu, diharapkan anak-anak lebih mudah memahami bahasa Inggris, baik ketika mereka membaca maupun menuliskan kata-kata.
YK/L-2


Penulis Berita : YK/L-2
Sumber: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=37513
READ MORE - Belajar Bahasa Inggris di Negeri Letterland

Pusat Sastra Simpan Novel Melayu Tionghoa 1892

Pusat Dokumen Sastra HB Jassin (PDSHBJ) yang berada di kawasan Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki Jakarta masih menyimpan koleksi buku cerita kesusastraan Melayu Tionghoa yang diterbitkan tahun 1892.

"Novel ini masih tersimpan dengan baik di ruang perpustakaan dan sebagian di tempat khusus dan dibuatkan dalam bentuk micro film," kata Kepala Perpustakaan (PDSHBJ), Endo Senggono di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, dari ratusan novel itu di antaranya berjudul Boegaroes dari Djikembang yang bercerita tentang kehidupan seorang gadis China ketika itu. Kemudian "Misih ketjil dapet melarat" karya Merk Goan Bie Ho diterbitkan di Sukabumi, Jawa Barat.
READ MORE - Pusat Sastra Simpan Novel Melayu Tionghoa 1892

Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Kedua di Ho Chi Minh City

Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City, Vietnam, mengumumkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua secara resmi pada bulan Desember 2007, kata seorang diplomat Indonesia.

"Bahasa Indonesia sejajar dengan Bahasa Inggris, Prancis dan Jepang sebagai bahasa kedua yang diprioritaskan," kata Konsul Jenderal RI di Ho Chi Minh City untuk periode 2007-2008, Irdamis Ahmad di Jakarta pada Jumat.
READ MORE - Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Kedua di Ho Chi Minh City

Kebudayaan: Dari Nietzsche ke Olimpiade Sastra

Oleh Richard Oh



Pada tahun 1876, sebuah festival diselenggarakan di Bayreuth atas prakarsa King Ludwig II, King Ludwig untuk menggelar karya-karya komposisi Richard Wagner. Seorang filsuf tak dikenal pada waktu itu diundang untuk menghadiri festival ini.

Filsuf itu hadir di festival Bayreuth karena, selain sebagai sahabat dekat sang komposer, dia memang penggemar berat karya-karya Richard Wagner. Namun, apa yang disaksikannya di Festival Bayreuth itu justru membuat dia jatuh pingsan di tengah keramaian.
READ MORE - Kebudayaan: Dari Nietzsche ke Olimpiade Sastra

Tentang Arti "Kata"

SECARA etimologi, kata "kata" dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Sansekerta kath?. Dalam bahasa Sansekerta kath? sebenarnya artinya adalah "konversasi", "bahasa", "cerita" atau "dongeng". Dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantis menjadi "kata".

READ MORE - Tentang Arti "Kata"

Realisme Pramoedya Ananta Toer

SEBAGAI salah seorang sastrawan Indonesia, menurut Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang figur transisional. Umurnya di sekitar angka yang sama dengan kebanyakan sastrawan Angkatan 45, tetapi latar belakang pendidikan (di mana ia tidak termasuk yang bersekolah pada sekolah menengah Belanda) dan latar belakang budaya Jawa-nya yang begitu kuat, membuatnya berbeda dengan anggota lain kelompok tersebut.


Cerita-cerita yang ia tulis tidak menampakkan tradisi jenaka dan sarkastik sebagaimana Idrus, Balfas, atau Asrul Sani, melainkan justru lurus, serius, dan dengan gaya naratif dramatis. Bahasanya pendek dan penuh sugesti, seperti narasi yang biasa dibawakan seorang dalang pada pertunjukan wayang.

READ MORE - Realisme Pramoedya Ananta Toer