Belajar Bahasa Inggris di Negeri Letterland

Alkisah, tersebutlah negeri yang dihuni berbagai macam makhluk yang hidup dengan penuh keceriaan. Negeri bernama Letterland itu dipenuhi beragam jenis permainan yang membuat anak-anak yang tinggal di sana selalu bersuka cita.

Di negeri khayal itu anak-anak bisa berkenalan dengan 25 karakter utama yang lucu-lucu, dua di antaranya ialah Annie Apple dan Zig Zag Zebra. Masing-masing karakter itu diambil dari penggambaran makhluk hidup di dunia nyata yang memiliki suara sangat khas.

Misalnya saja, burung yang kerap mengeluarkan bunyi cericit, anjing yang digambarkan dengan tokoh Peter Puppy mengeluarkan bunyi “puh”, dan kucing bernama Clever Cat yang kerap mengeluarkan suara “keh”.

Letterland ternyata bukan negeri dongeng biasa. Ketika anak-anak yang duduk di Play Group atau Taman Kanak-Kanak (TK) mengunjungi negeri itu, bukan hanya kesenangan berfantasi yang mereka peroleh, tetapi juga peningkatan kemampuan membaca dan menulis bahasa Inggris.

Memang bukan perkara mudah mengajari anak-anak balita berbahasa Inggris, apalagi di Indonesia bahasa Inggris bukanlah bahasa utama (first language), melainkan hanya merupakan bahasa kedua. Oleh karena itu, dibutuhkan metode pengajaran khusus yang bisa memudahkan anak-anak memahami bahasa asing itu.

Menurut psikolog yang juga Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) Seto Mulyadi, pembelajaran bahasa Inggris bagi anak-anak usia dini sebaiknya dilakukan dengan cara yang “ramah” terhadap anak.

Suasana belajar dibuat dalam bentuk informal, lekat dengan suasana bermain, menggunakan alat peraga, serta metode penyampaian yang menyenangkan.

Seto yang akrab dipanggil dengan Kak Seto itu mencontohkan materi-materi yang diberikan bisa dilengkapi dengan gambar-gambar. Pengajar juga bisa menyampaikan materi pelajaran sambil mendongeng, bernyanyi, atau menonton film yang kesemuanya disampaikan dalam bahasa Inggris.

Salah satu metode pengajaran bahasa Inggris yang memenuhi kriteria “ramah” terhadap anak ialah metode phonics.

Sebenarnya di negara-negara yang bahasa ibunya bahasa Inggris, sistem itu sudah dikenalkan sejak lama. Berbeda halnya dengan di negara-negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya, metode itu belum begitu populer.

Menurut Anty Nindi, staf pengajar di Tumble Tots Playgroup with Letterland, Yogyakarta, sistem phonics merupakan suatu sistem atau metode yang bertujuan memberi landasan membaca bagi anak-anak usia dini dengan menyuarakan bunyi dari huruf yang ada. “Huruf-hurufnya juga memiliki karakter tertentu dan tentu saja memiliki nama yang khas,” ujarnya.

Ada banyak program belajar bahasa Inggris untuk anak usia dini yang menggunakan sistem itu. Beberapa di antaranya ialah Family Readers by Family Literacy, Hooked on Phonics, Jolly Phonics, Letterland, dan Alphaphonics.

Dari beberapa metode itu, yang paling populer di Indonesia ialah metode Letterland yang diciptakan oleh Lyn Wendon dari Inggris. Metode itu menampilkan negeri imajinasi bernama Letterland yang dipenuhi dengan karakter-karater menarik. Karakter-karakter itu selalu merupakan perpaduan dari huruf dan karakter animasi.

Secara prinsip, metode pengajaran membaca dengan menggunakan sistem phonics berbeda dengan metode pada umumnya yang selalu dimulai dengan mengeja (spelling) huruf-huruf. Dalam metode pengajaran membaca biasa, anak kerap diminta mengeja huruf a yang dibaca ei, b dibaca bunyi bi, c dibaca si, dan seterusnya.

Namun, menurut Nindy, pada metode phonics, guru akan mengenalkan huruf-huruf sebagai karakter yang ada di negeri Letterland. Misalnya saja huruf b yang dikenalkan sebagai karakter yang bernama Bouncy Ben dengan suaranya yang khas yakni /bek/.

Memang, tambah Nindy, bunyi-bunyi huruf yang berdasarkan karakter tokoh itu tidak ada hubungan logis dengan abjad yang ada.



26 Karakter

Ke-26 huruf yang dibuatkan nama dan karakternya masing-masing itu hanya untuk memudahkan anak mengingat huruf dan membuat karakter tersebut seakan-akan hidup. “Pembelajaran bahasa Inggris dilakukan melalui beragam kegiatan, seperti menyanyi, mementaskan drama, bercerita, atau membacakan puisi. Semua kegiatan itu difokuskan pada bunyi suara,” ujar Nindy.

Lebih lanjut, Nindy menerangkan dalam sesi pembelajaran itu, anak-anak diminta membuka halaman-halaman yang ada dalam buku Letterland. “Misalnya saja, ketika anak-anak membuka halaman Clever Cat, guru akan mengatakan ‘clever cat says keh keh keh.’

Nah, dari situ guru akan merangkaikan cerita yang isinya mempertemukan clever cat dengan karakter-karakter lain yang memunyai bunyi sama, misalnya cow, cake, cafe,” terang Nindy. Selama satu tahun, tambahnya, anak-anak diajarkan 26 karakter dasar yang sekaligus menjadi kumpulan vocabulary.

Pembelajaran bahasa Inggris dengan metode Letterland juga diterapkan di JAC School, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Menurut Maya Puspitasari, pengajar Play Group 2 JAC School, dengan menggunakan metode itu, dalam waktu satu tahun anak-anak didik bisa menghafal semua karakter, bentuk huruf, serta bunyi huruf.

Metode Letterland juga dinilai menawarkan suatu sistem pembelajaran yang terintegrasi. Pasalnya, anak-anak didik tidak hanya diberikan pelajaran bahasa Inggris, tetapi juga pelajaran moral, sosial, dan ilmu pengetahuan yang biasanya disisipkan dalam cerita.

Pada tahun berikutnya, pembelajaran difokuskan pada keterampilan membaca. Melalui penggabungan karakter-karakter yang ada di Letterland, anak-anak dilatih terbiasa merangkaikan kata sehingga membentuk suatu cerita. Nindy mencontohkan suatu kisah yang disampaikan dalam bahasa Inggris: one day Diffi Dog go out walking in Letterland. And then Red Robot accompany her.

Impy Ink want to join them also, oh Peter Puppys also join them. So, how do they says when they go together?
Kata-kata yang ada dalam cerita itu, menurut Nindy, mengandung pelajaran mengenai percampuran konsonan.

Dalam cerita itu, suara khas dari masing-masing karakter-karakter, seperti Diffi Dog, Red Robot, Impy Ink, dan Peter Puppys juga disampaikan pengajar kepada anak-anak.

Suara Diffi Dog, misalnya, digambarkan dengan /dek/, Red Robot dengan suara /errrr/, Impy Ink bersuara /iiiiiiiii/, dan Peter Puppys berbunyi /puh/. Dengan metode seperti itu, diharapkan anak-anak lebih mudah memahami bahasa Inggris, baik ketika mereka membaca maupun menuliskan kata-kata.
YK/L-2


Penulis Berita : YK/L-2
Sumber: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=37513
READ MORE - Belajar Bahasa Inggris di Negeri Letterland

Pusat Sastra Simpan Novel Melayu Tionghoa 1892

Pusat Dokumen Sastra HB Jassin (PDSHBJ) yang berada di kawasan Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki Jakarta masih menyimpan koleksi buku cerita kesusastraan Melayu Tionghoa yang diterbitkan tahun 1892.

"Novel ini masih tersimpan dengan baik di ruang perpustakaan dan sebagian di tempat khusus dan dibuatkan dalam bentuk micro film," kata Kepala Perpustakaan (PDSHBJ), Endo Senggono di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, dari ratusan novel itu di antaranya berjudul Boegaroes dari Djikembang yang bercerita tentang kehidupan seorang gadis China ketika itu. Kemudian "Misih ketjil dapet melarat" karya Merk Goan Bie Ho diterbitkan di Sukabumi, Jawa Barat.

Buku cerita itu, kata dia, dulunya dilarang Belanda untuk dibaca di sekolah-sekolah, sehingga para pribumi dan khusus Tionghoa saat itu hanya bisa membacanya di rumah.

"Kami berhasil mengumpulkannya, dan sebagian besar novel itu diserahkan langsung oleh para keturunan Tionghoa di Tanah Air," katanya.

Ia menjelaskan, yayasan HB Jassin yang dibentuk tahun 1977 mendapat bantuan gedung dari pemerintah saat itu di kawasan TIM.

Yayasan ini telah mengoleksi ribuan informasi dan foto mengenai tokoh sastra dan budaya serta hasil ciptaanya yang telah mengukir sejarah kesusastraan Indonesia yang dirintis oleh kritikus sastra HB Jassin sejak tahun 1930-an.

Koleksi yang dimiliki antara lain 17.316 judul buku fiksi, 12.290 judul non fiksi, 507 judul buku referensi,812 judul buku atau naskah drama, 875 map biografi pengarang, 571 judul makalh, 630 judul skripsi dan disertasi, 732 buah kaset rekaman suara dan 15 buah kaset rekaman video.

Buku koleksi PDSHBJ itu, katanya, tentang naskah drama, novel, puisi dan kritik esai baik dari pengarang terkenal Indonesia seperti Moehtar Lubis, Chairil Anwar, Armin Pane, Marah Rusli dan Hamka yang dimanfaatkan orang sebagai referensi buku kuliah dan skripsi serta bahan penelitian.

Selain dari dalam negeri juga mancanegara dia ntaranya Belanda, Kanada, Australia, dan Jepang.

"Kita bangga memiliki catatan sejarah yang menggambarkan kayanya khazanah budaya Indonesia," katanya.

Menurut Endo, untuk memelihara ribuan buku itu tentunya membutuhkan dana, selama ini biaya operasional diusahakan pihak yayasan dibantu para donator yang peduli terhadap seni dan budaya, sementara bantuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sangat minim.

Bantuan dari pemerintah untuk 2009, jelas dia, hanya Rp275 juta, turun dibanding tahun sebelumnya mencapai Rp350 juta, sedangkan biaya operasional dalam setahunnya sebesar Rp500 juta.Disamping itu pihaknya membutuhkan dana sekitar Rp3 miliar untuk biaya perbaikan atau rehabilitasi gedung.

"Untuk menekan biaya operasional itu terpaksa beberapa kegiatan dikurangi bahkan ditiadakan," katanya.

Bahkan, dia mengakui keberadaan gedung sastra itu ke depannya masih belum jelas, karena persoalan dana operasional yang masih ditangani pihak yayasan dengan keuangan sangat minim.

"Kami mengharapkan adanya peranan atau kepedulian pemerintah untuk keberlangsungan lembaga sastra satu-satunya di Tanah Air ini," kata Endo.

Sumber: Kompas, Kamis, 18 Juni 2009 | 01:59 WIB
http://oase.kompas.com/read/xml/2009/06/18/01594653/pusat.sastra.simpan.novel.melayu.tionghoa.1892
READ MORE - Pusat Sastra Simpan Novel Melayu Tionghoa 1892

Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Kedua di Ho Chi Minh City

Pemerintah Daerah Ho Chi Minh City, Vietnam, mengumumkan Bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua secara resmi pada bulan Desember 2007, kata seorang diplomat Indonesia.

"Bahasa Indonesia sejajar dengan Bahasa Inggris, Prancis dan Jepang sebagai bahasa kedua yang diprioritaskan," kata Konsul Jenderal RI di Ho Chi Minh City untuk periode 2007-2008, Irdamis Ahmad di Jakarta pada Jumat.

Guna mengembangkan dan memperlancar studi Bahasa Indonesia, pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia di kota itu membantu berbagai sarana yang diperlukan beberapa universitas, kata Irdamis.

Sarana yang dibantu antara lain peralatan komputer, alat peraga, bantuan dosen dan bantuan keuangan bagi setiap kegiatan  yang berkaitan dengan upaya promosi Bahasa Indonesia di wilayah kerja universitas masing-masing.

Perguruan tinggi itu juga mengadakan lomba pidato dalam Bahasa Indonesia, lomba esei tentang Indonesia dan pameran kebudayaan. Universitas Hong Bang, Universitas Nasional HCMC dan Universitas Sosial dan Humaniora membuka studi Bahasa Indonesia.

"Jumlah mahasiswa yang terdaftar sampai Nopember 2008 sebanyak 63 orang dan menurut universitas-universitas itu, minat untuk mempelajari Bahasa Indonesia cenderung meningkat," kata Irdamis.

Ia berpendapat sebagian pemuda Vietnam melihat adanya keperluan untuk mempelajari Bahasa Indonesia, mengingat kemungkinan meningkatnya hubungan bilateral kedua negara yang berpenduduk terbesar di ASEAN di masa depan.

Jumat, 12 Juni 2009 | 23:52 WIB

Sumber: http://oase.kompas.com/read/xml/2009/06/12/23524123/bahasa.indonesia.jadi.bahasa.kedua.di.ho.chi.minh.city
READ MORE - Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Kedua di Ho Chi Minh City

Kebudayaan: Dari Nietzsche ke Olimpiade Sastra

Oleh Richard Oh



Pada tahun 1876, sebuah festival diselenggarakan di Bayreuth atas prakarsa King Ludwig II, King Ludwig untuk menggelar karya-karya komposisi Richard Wagner. Seorang filsuf tak dikenal pada waktu itu diundang untuk menghadiri festival ini.

Filsuf itu hadir di festival Bayreuth karena, selain sebagai sahabat dekat sang komposer, dia memang penggemar berat karya-karya Richard Wagner. Namun, apa yang disaksikannya di Festival Bayreuth itu justru membuat dia jatuh pingsan di tengah keramaian.

Apa yang terjadi dalam festival itu sungguh mengguncang sistem pemikiran sang filsuf sehingga membuat dia menelaah kembali secara kritis apa yang disaksikannya di festival itu.

Kegundahan intelektualitasnya membuahkan dua karya pemikiran filsafat yang sangat terkenal, yakni Human, All-too- Human dan Ecce Homo. Dua karya yang mengecam habis-habisan kemerosotan kebudayaan dan kebobrokan moralitas kelas borjuis. Hubungan filsuf ini dengan panutannya, Richard Wagner, sejak saat itu meretak. Filsuf ini bernama Nietzsche.

Hari ini kita paham cikal bakal kegundahan Nietzsche pada Wagner dan Festival Bayreuth berlandasan pada kemuakkannya pada orang-orang borjuis yang dianggap terlalu mengagung-agungkan seorang pencipta karya seni. Juga frustrasi sekaligus kekecewaannya pada Richard Wagner yang, di matanya terlihat sebagai seorang seniman sejati, semestinya tidak membiarkan dirinya dielu-elu bagaikan seorang mahadewa.

Dua abad kemudian kita perlu mengutak-atik kembali pemikiran Nietzsche. Di abad ke-21 ini hanya para rocker dan bintang layar lebar Hollywood yang menikmati layanan istimewa seperti yang disesalkan oleh Nietzsche itu. Pemikir, ilmuwan, komposer, bahkan rupawan paling terkenal sekalipun saat ini tidak bisa lagi mengimbangi kejayaan yang pernah dinikmati oleh Sartre, Einstein, Wagner atau- pun Picasso pada masanya. Saya yakin hanya sejumput manusia yang kenal baik nama-nama ini: WB Sebald, Garreth Lisi, Alain Badiou, dan Gerhard Richter.

WB Sebald adalah penulis sastra yang dianggap salah satu penulis terbesar saat ini. Garreth Lisi dengan makalahnya, A Very Simple Theory of Everything, dianggap fisikawan yang telah menemukan sebuah solusi elegan untuk menyatukan teori relativitas dan teori partikel yang telah mengganggu para ilmuwan sejak masa Einstein.

Alain Badiou adalah seorang filsuf yang dianggap berhasil mengembalikan filsafat ke jalur baru, sejak filsafat diluluhlantakkan oleh para pemikir pascamodern. Gerhard Richter adalah rupawan Jerman yang dianggap rupawan paling hebat di masa ini.

Hari ini mereka hanya dikenal sebagai dewa di kelompok masing-masing. Bagi orang awam, mereka hanya nama-nama tidak berarti sama sekali. Pada saat ini, hampir mustahil, seorang pemikir bisa menggapai ketenaran yang begitu berpengaruh seperti Sartre ataupun mereka yang nama-nama saya sebutkan di atas.

Wacana yang menyerpih

Di era serba fragmentaris ini, yang digambarkan oleh Nietzsche sebagai abad ”Tuhan yang telah mati”, sangatlah sulit bagi seorang seniman, ilmuwan atau- pun pemikir besar untuk mendominasi wacana publik. Suara orang-orang istimewa ini sudah kehilangan geregetnya. Walaupun internet memungkinkan kita menyebarluaskan sebuah wacana ke seluruh dunia dalam sekejap, ia juga berhasil memecahbelahkan pusat perhatian dunia sehingga dampak sebuah wacana menjadi serpihan-serpihan tak berarti.

Di dunia cerai-berai seperti sekarang ini, komik, seni rupa, seni performa, apa saja yang mudah dicerna dan tidak membuat jidat mengerut menjadi penguasa di bidangnya. Alasannya sangat sederhana, mereka mempunyai daya tarik massal yang tinggi. Semakin berpengaruh massa itu, semakin sederhana tuntutan manusia pada sebuah karya seni.

Manusia modern tidak lagi memiliki waktu untuk menafsir sebuah karya seni secara saksama. Semuanya harus supra cepat dan tidak bertele-tele.

Maka kapasitas berpikir dan daya ingat pun menjadi semakin dangkal dan manusia pun kehilangan toleransi dan kesabaran. Dalam list bestseller New York Times sekarang nama-nama seperti John Grisham dan Daniel Steele mendominasi.

Di zaman sekarang, asal kasar, melawan konvensi dan tebal muka, karya-karya tersebut akan diserap langsung oleh masyarakat.

Dalam keadaan seperti ini, maka tidak heran dan perlu kita syukuri keagresifan negara-negara berkembang dalam mempromosikan kebudayaan dan pencipta seni ataupun pemikirnya. Mereka dianggap sebagai aset-aset nasional yang perlu didukung karena mereka menonjolkan kebudayaan dan memperkenalkan keunikan peradaban masing-masing negara, yang pada ujungnya merupakan sebuah tindakan yang bersifat politis dan pragmatis karena ia meningkatkan turisme dan pemasukan devisa. Apa yang ditakutkan oleh Nietzsche, dua abad kemudian menjadi sebuah hal yang perlu kita dukung secara mutlak.

Di negara-negara yang lebih maju, di mana bergelimang kekayaan pribadi, banyak filantropis yang bermunculan. Kepedulian mereka tidak hanya di tingkat kepantasan seorang individu mengembalikan ke negaranya apa yang telah mereka keruk darinya. Alasan mereka kini jauh lebih pribadi dan mendalam: bagi sebagian filantropis urusannya bukan lagi altruisme, tetapi sebuah kecintaan mendalam pada bidang-bidang kesenian yang mereka dukung. Beberapa nama belakangan bermunculan menjadi pahlawan filantropis: Bill Gates, Oprah Winfrey, dan Maurice Saatchi.

Agresivitas budaya

Tidak heran bila kemudian kita menyaksikan pertumbuhan yang begitu dahsyat di berbagai bidang kesenian dan kebudayaan di negara-negara yang begitu agresif membelanya. Mengikuti jejak negara tetangganya, Jepang, Korea secara agresif mempromosikan kebudayaannya di negara kita.

Negara-negara Eropa sudah bertahun-tahun mempromosikan kebudayaan dan keseniannya di negara kita. Negara-negara Amerika Latin seperti Cile dan Brasil juga tidak mau kalah dalam mempromosikan keunikan kebudayaan mereka. Melalui prakarsa yayasan Pablo Neruda, misalnya, Cile pernah memberikan Pramoedya Ananta Toer sebuah penghargaan. Brasil saat ini sedang mempromosikan Capoera dan kulinernya kepada masyarakat kita.

Di negeri ini, sebuah aksi agresif yang mendayagunakan produk budaya sebagai senjata utama penegakan karakter dan integritas sebuah bangsa tidak tampak dalam setiap kebijakan publik maupun jargon para calon pemimpin yang sibuk untuk dipilih belakangan ini.

Tak ada semacam strategi kebudayaan yang kuat, visioner, dan progresif. Kesenian sebagai produk budaya terpenting menjadi komoditas alientif dalam retorika politik-ekonomi kita yang riuh. Terlebih kesusastraan, sebagai satu puncak kesenian, mendapatkan apresiasi yang hampir nol di kalangan elite kita.

Belum lagi posisinya yang tak hanya terpojok karena desakan teknologi digital seperti video games dan perangkat informasi-komunikasi, sastra pun menjadi bidang yang dianggap kurang menjanjikan oleh orang muda saat ini. Penulis-penulis sastra serius harus berjuang mati-matian untuk bisa mencukupi keperluan sehari-hari hanya untuk sekadar bertahan hidup dan setia pada profesi. Dan terlalu minim kebijakan publik yang mau menyentuh hal itu. Kemiskinan sastra terjadi sudah secara struktural; tertolong karena kegigihan para aktivis/pelakunya saja.

Oleh karenanya, di tengah ribut kita pada upaya promosional dengan program binaan atau penyelenggaraan berbagai olimpiade sains, betapa bermartabatnya bila juga diikuti oleh sebuah ide bagi penyelenggaraan sebuah olimpiade sastra. Yang melibatkan segala lapisan masyarakat luas, yang tak hanya menggalakkan apresiasi dan penciptaan sastra, tetapi juga kian meneguhkan karakter kebudayaan kita yang dihargai dunia sejak beberapa milenia lalu. Dalam gelapnya, sastra memerlukan bintang-bintang yang menyelamatkan pelayarannya.

Richard Oh Penulis novel, penggagas penghargaan sastra Kathulistiwa Award

sumber gambar: http://home.student.uva.nl/frederike.vanstraelen/index_files/nietzsche.gif


sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/11/01204397/dari.nietzsche.ke.olimpiade.sastra


Kompas, Sabtu, 11 Oktober 2008 | 03:00 WIB

READ MORE - Kebudayaan: Dari Nietzsche ke Olimpiade Sastra

Tentang Arti "Kata"

SECARA etimologi, kata "kata" dalam bahasa Melayu dan Indonesia diambil dari bahasa Sansekerta kath?. Dalam bahasa Sansekerta kath? sebenarnya artinya adalah "konversasi", "bahasa", "cerita" atau "dongeng". Dalam bahasa Melayu dan Indonesia terjadi penyempitan arti semantis menjadi "kata".



Istilah "kata" sungguh sulit untuk didefinisikan. Di dalam artikel ini dicoba untuk menjelaskan konsep ini dengan menyajikan tiga definisi yang berbeda: definisi menurut KBBI, tata bahasa baku bahasa Indonesia dan definisi yang umum diberikan di Dunia Barat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (1997) memberikan beberapa definisi mengenai kata:

  1. Elemen terkecil dalam sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa

  2. konversasi, bahasa

  3. Morfem atau kombinasi beberapa morfem yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas

  4. Unit bahasa yang dapat berdiri sendiri dan terdiri dari satu morfem (contoh kata) atau beberapa morfem gabungan (contoh perkataan)


Definisi pertama KBBI bisa diartikan sebagai leksem yang bisa menjadi lema atau entri sebuah kamus. Lalu definisi kedua mirip dengan salah satu arti sesungguhnya kath? dalam bahasa Sansekerta. Kemudian definisi ketiga dan keempat bisa diartikan sebagai sebuah morfem atau gabungan morfem.



Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kata
READ MORE - Tentang Arti "Kata"

Realisme Pramoedya Ananta Toer

SEBAGAI salah seorang sastrawan Indonesia, menurut Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang figur transisional. Umurnya di sekitar angka yang sama dengan kebanyakan sastrawan Angkatan 45, tetapi latar belakang pendidikan (di mana ia tidak termasuk yang bersekolah pada sekolah menengah Belanda) dan latar belakang budaya Jawa-nya yang begitu kuat, membuatnya berbeda dengan anggota lain kelompok tersebut.


Cerita-cerita yang ia tulis tidak menampakkan tradisi jenaka dan sarkastik sebagaimana Idrus, Balfas, atau Asrul Sani, melainkan justru lurus, serius, dan dengan gaya naratif dramatis. Bahasanya pendek dan penuh sugesti, seperti narasi yang biasa dibawakan seorang dalang pada pertunjukan wayang.


Perihal lain yang khas dan senantiasa menjadi identitas kepengarangannya, Pramoedya sering kali juga melatarbelakangi ceritanya dengan paparan sejarah maupun pengalaman hidupnya. Tulisan-tulisan awalnya banyak mengambil latar belakang masa sebelum Perang Dunia Kedua, terutama kehidupan di sekitar kota Blora tempat ia tinggal di masa kecil, serta masa-masa seputar revolusi kemerdekaan.


Meski jarang, ia pun menulis cerita dengan latar belakang masa pendudukan Jepang di Indonesia, antara lain melalui roman Perburuan. Karyanya yang terbesar—empat mahakarya yang merupakan tetralogi berjudul Karya Buru (meliputi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca)—ditulis dengan latar belakang tamasya sejarah pergerakan nasional Indonesia 1898-1918. Menengok sejarah kembali ia lakukan untuk romannya yang terbit pertengahan 1990-an, berjudul Arus Balik, dengan latar belakang masuknya Islam ke tanah Jawa.


Kegandrungannya terhadap sejarah ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh teori sederhana Maxim Gorky: "The people must know their history" (rakyat mesti tahu sejarahnya). Pengaruh lain bisa disebutkan datang dari aliran realisme, terutama realisme sosialis. Bagi Pramoedya, salah satu watak realisme sosialis adalah "terutama memberanikan rakyat untuk melakukan orientasi terhadap sejarahnya sendiri".


Pengaruh realisme sosialis jelas bukan sesuatu yang mengada-ada, sebab Pramoedya sendiri kerap mengungkapkan antusiasmenya terhadap aliran tersebut. Ia antara lain pernah menulis makalah dalam kesempatan memberikan prasaran untuk sebuah seminar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tanggal 26 Januari 1963, dengan judul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia. Selain oleh Pramoedya, klaim realisme sosialis juga dipergunakan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sebagai dasar kreatif mereka.


Dalam tradisi seni sendiri, kelahiran realisme sosialis sebagai aliran seni agak sulit ditentukan waktunya secara pasti. Akan tetapi, menurut Pramoedya, realisme sosialis diperkirakan muncul sekitar tahun 1905. Dalam hal ini Maxim Gorky adalah pengarang yang sering dianggap sebagai bapak pendiri realisme sosialis.


Novel-novel Gorky bisa dirujuk sebagai awal mula lahirnya genre ini. Triloginya yang meliputi novel-novel Childhood, My Apprenticeship, dan My Universities memiliki unsur-unsur realisme yang cukup kuat dengan sandaran yang bersifat semi-otobiografi. Atau dengan kata-kata Pramoedya, "secara otobiografik melukiskan pukulan-pukulan dan tindasan-tindasan yang diterimanya dari kelas kapitalis-borjuis".


Meski demikian, Gorky tidak hanya berhenti pada realitas. Gorky mengembangkannya ke arah pemaknaan realitas itu sendiri sebagai sebuah proses dialektik untuk menemukan kebenaran. Realitas bukanlah kebenaran itu sendiri, melainkan setitik proses menuju kebenaran. Pramoedya menilai, kematangan realisme sosialis Gorky mencapai puncaknya dalam novel-novel seperti The Artamonovs dan Mother.


Akar realisme


Realisme sosialis lahir sebagai penerus tradisi seni kritis, yang terutama merupakan bentuk baru dari tradisi realisme yang berkembang di Eropa. Realisme (klasik), dalam catatan Georg Lukács, muncul dalam atmosfer "membuyarnya awan mistisisme, yang pernah mengelilingi fenomena sastra dengan warna dan kehangatan puitik serta menciptakan suatu atmosfer yang akrab dan ’menarik’ di sekitarnya".


Dalam kalimat tersebut Lukács merujuk pada masa pertengahan abad kesembilan belas serta diterimanya filsafat marxis. Filsafat sejarah marxis, masih menurut Lukács, menganalisis manusia secara keseluruhan, dan menggambarkan sejarah evolusi manusia juga secara keseluruhan. Ia berusaha untuk menggali hukum tersembunyi yang mengatur seluruh hubungan manusia. Dengan cara ini, filsafat marxis memberi jembatan ke arah sastra klasik dan menemukan sastra klasik yang baru: Yunani kuno, Dante, Shakespeare, Goethe, Balzac, atau Tolstoy. "Realisme terbesar yang sesungguhnya dengan demikian menggambarkan manusia dan masyarakat sebagai wujud yang lengkap, dan bukan semata-mata memperlihatkan satu atau beberapa aspeknya".


Dalam definisi Pramoedya, "Realisme sosialis merupakan metode yang meneruskan filsafat materialisme dalam karya sastra serta meneruskan pandangan sosialisme-ilmiah. Dalam menghadapi persoalan masyarakat, realisme sosialis mempergunakan pandangan yang struktural fundamental".


Lebih lanjut, perkembangan sastra realis ini tidak bisa lepas dari cara pandang manusia terhadap sejarah yang berubah, terutama di Eropa, tempat kelahiran tradisi realisme itu sendiri. Hal ini tampak misalnya dalam tinjauan Lukács atas epik Tolstoy, War and Peace. "Prinsip-prinsip yang ia (Tolstoy) ikuti dalam realismenya secara obyektif menampilkan suatu kesinambungan tradisi realis terbesar, tapi secara subyektif prinsip-prinsip ini ditimbulkan dari masalah-masalah pada masanya serta dari sikapnya terhadap masalah terbesar zamannya, yakni hubungan penindas dan tertindas di pedesaan Rusia".


Dengan begitu, realisme sosialis sesungguhnya merupakan teori seni yang mendasarkan pada kontemplasi dialektik antara seniman dan lingkungan sosialnya. Seniman ditempatkan tidak terpisah dari lingkungan tempatnya berada. Hakikat dari realisme sosialis ini bisa dikatakan menempatkan seni sebagai wahana "penyadaran" bagi masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang terasing (teralienasi, dalam istilah marxis) dan mampu menyadari dirinya sebagai manusia yang memiliki kebebasan.


Sebelumnya, sejarah dipandang sebagai suatu gerak yang tetap, mutlak, dan alamiah. Perkembangan selanjutnya dari cara pandang ini adalah munculnya pemahaman baru mengenai sejarah. Sejarah mulai dipandang sebagai perubahan yang justru tergantung kepada diri manusia itu sendiri.


"Para filsuf hanya memberikan interpretasi berbeda kepada dunia, yang perlu adalah mengubahnya", itu salah satu bunyi Tesa-tesa mengenai Feuerbach Marx. Manusia, dengan pikiran dan perbuatannya, mampu menentukan arah dari gerak sejarah. Sejarah tidak bersifat mandiri atau berada di luar jangkauan manusia. Dalam arah pemikiran seperti itulah realisme sosialis lahir untuk menempatkan kaum lemah (proletar, dalam bahasa marxis) sebagai manusia-manusia penggerak dan penentu arah sejarah. Dan secara serta-merta aliran ini mengambil jarak atau berseberangan dengan tradisi realisme sebelumnya yang lebih memihak kepada golongan penguasa (atau borjuis), yang kemudian dikenal dengan nama realisme borjuis.


Seperti awal kelahirannya, masuknya realisme sosialis ke Indonesia tidak pernah diketahui secara pasti kapan pula waktunya. Namun yang jelas, kemunculannya bisa dianggap sangat erat kaitannya dengan keberadaan Lekra dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Lekra sendiri didirikan atas inisiatif DN Aidit, Nyoto, MS Ashar, dan AS Dharta pada 17 Agustus 1950. Dua nama pertama adalah pemimpin teras PKI yang baru dibentuk lagi.


Sekitar tahun 1950-an, beberapa seniman kiri menemui Nyoto untuk menyatakan peranan seni dalam perjuangan kelas. Nyoto sendiri dalam pidato sambutan pendirian Lekra yang berjudul Revolusi adalah Api Kembang menyatakan bahwa hanya ada dua pertentangan antara dua asas besar, yakni kebudayaan rakyat dan kebudayaan bukan rakyat, dan tak ada jalan ketiga. Dan baginya, tak mungkin kebudayaan rakyat bisa berkibar tanpa merobek kebudayaan bukan rakyat.


Jauh sebelumnya, S Soedjojono, yang sering kali dianggap sebagai "Bapak Seni Rupa Modern Indonesia" (ia pun kelak dikenal sebagai aktivis Lekra) mengatakan, "Maka itu para pelukis baru akan tidak lagi hanya melukis gubuk yang damai, gunung-gunung membiru, hal-hal yang romantis atau indah dan manis-manis, tetapi juga akan melukis pabrik gula dan petani yang kurus kerempeng, mobil mereka yang kaya-kaya dan celana pemuda miskin; sandal-sandal, pantalon dan jaket orang di jalanan."


Akan tetapi, Pramoedya dalam Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia menyenarai, jauh hari ke belakang tradisi sastra realisme sosialis Indonesia telah muncul melalui, antara lain, Sumantri dengan karya novelnya yang berjudul Rasa Merdika. Nama lain yang bisa disebut ialah Semaoen (Hikayat Kadirun) serta Mas Marco Kartodikromo (Student Hijo).


Realisme sosialis mereka memang bukan layaknya realisme sosialis yang berkembang kemudian. Keberpihakan mereka terhadap rakyat pekerja yang lemah lebih merupakan suatu komitmen sosial, dan bukan atas dorongan landasan-landasan yang lebih ilmiah seperti halnya realisme sosialis sebagai aliran yang datang lebih kemudian. Atau dengan kata lain, realisme sosialis mereka bisa dikatakan sebagai realisme sosialis "cikal bakal" yang masih bersifat sosialisme utopis. Sedikit membela mereka, Pramoedya mengistilahkannya sebagai kekeliruan, bukan kesalahan.


"Karena, sekalipun pendasaran filsafat teori sudah benar, karena belum adanya tradisi yang cukup lama, memudahkan orang melukiskan atau menggambarkan sesuatu yang menyalahi teori marxis," tulisnya.


Lepas dari itu, komitmen kerakyatan yang mereka bangun tampaknya telah menjadi dasar yang tak pernah hilang dalam perkembangan realisme sosialis Indonesia di kemudian hari, karena landasan inilah yang kelak menjadi alat pemersatu berbagai gaya yang muncul dalam realisme sosialis Indonesia.


Meskipun definisi realisme sosialis semacam itu masih demikian lentur, bisa dicatat sebagai awal mula realisme sosialis muncul sebagai aliran di Indonesia, sampai kemudian lahirlah Lekra. Kelenturan gaya realisme sosialis Lekra bisa dilihat dari tradisi seni rupa mereka, yang menurut Brita L Miklouho-Maklai dalam Menguak Luka Masyarakat: Beberapa Aspek Seni Rupa Kontemporer Indonesia Sejak 1966, berpangkal pada telah adanya berbagai gaya, mulai dari gaya realisme (foto) Soedjojono, bentuk ekspresionis Affandi dan Hendra, ataupun gaya surealistik Harijadi. Pegangan umum yang biasanya digunakan oleh para seniman tersebut adalah prinsip kemanusiaan, keadilan, dan kepekaan terhadap kehidupan rakyat kecil.


Dalam Mukaddimah-nya sendiri, Lekra tak secara spesifik menyebut istilah realisme sosialis. Namun, indikasi itu bukannya tidak ada. Lihatlah rumusan-rumusan yang dicuplik dari Mukaddimah tersebut: "Menyadari bahwa rakyat adalah satu-satunya pencipta kebudayaan…", "Lekra membantah pendapat kesenian dan ilmu bisa terlepas dari masyarakat", atau "Lekra menganjurkan untuk mempelajari dan memahami pertentangan-pertentangan yang berlaku di dalam masyarakat mana pun di dalam hati manusia…".


Seni yang dilihat dari sudut pandang pengertian bentuk tanpa isi merupakan seni yang secara terang-terangan ditolak oleh seniman-seniman Lekra. "Politik sebagai panglima" ditempatkan sebagai sebuah standar bagi penilaian terhadap karya seni. Karena itu, seniman tidak menempatkan diri sebagai pengabdi (melulu) artistik. Kemerdekaan tidak diartikan sebagai keleluasan beriseng sendiri hanya dalam lingkaran kesenian, tanpa menyadari fungsi seni sebagai alat revolusi. Seniman tidak boleh menjadi semacam menara gading kaum elitis, dan sebaliknya ia harus selalu berbaur dengan rakyat. Para pelukis, misalnya, harus menyempatkan diri berada di tengah-tengah petani untuk bisa melukiskan penderitaan mereka yang melarat itu, karena anatomi petani berbeda dengan anatomi orang-orang kota. Kegiatan kreasi seni—dengan kacamata seperti itu—akhirnya senantiasa diverifikasi apakah ia sejalan dengan motif perjuangan kelas atau tidak. Suatu motif yang kemudian dikenal sebagai gerakan "turba" atau turun ke bawah.


Pramoedya sendiri memahami gerakan turun ke bawah tidak dalam makna yang sesempit itu. Bagi Pramoedya, turun ke bawah adalah ibarat kembali ke dunia desa. Lebih jauh lagi, kembali ke dunia cikal-bakal desa. Bukan turun ke bawah, melainkan turun ke sejarah. Ke dasar. Inilah yang kemudian membentuknya untuk yakin betapa pentingnya sejarah bagi perkembangan manusia, di mana seni yang terlibat di dalamnya juga tidak bisa lepas dari peran penting sejarah.


Novel sejarah


Dengan begitu, dalam karya-karya Pramoedya, tradisi realisme tak hanya hadir begitu saja sebagai representasi kenyataan manusia dan masyarakat seutuhnya, atau dalam bentuknya yang semibiografis sebagaimana yang diterapkan oleh Gorky, tetapi juga menjelma dalam genrenya yang baru: novel sejarah.


Dalam studinya mengenai novel sejarah (Eropa), Lukács memperkirakan kebangkitan novel sejarah berawal pada abad kesembilan belas menyusul kejatuhan Napoleon. Memang ada novel sejarah sebelumnya, tetapi selalu dalam bentuk adaptasi sejarah klasik dan mitologi. Sejak masa Napoleon, sejarah tak hanya merupakan sejarah bagi orang besar, tetapi juga merupakan pengalaman sejarah bagi sebuah bangsa hingga ke stratanya yang paling bawah. "Untuk pertama kali mereka mengalami Perancis sebagai negara mereka sendiri, sebagai tanah air yang mereka ciptakan sendiri."


Sejak itu pula, dalam sastra, sejarah juga dihadirkan sebagai pengalaman massa. Inilah tren kelahiran novel sejarah yang dimaksud Lukács. Dalam novel sejarah Sir Walter Scott, Waverley, misalnya, peristiwa Revolusi Perancis menghasilkan transformasi ekonomi dan politik hampir ke seluruh Eropa. Perubahan-perubahan ekonomi politik ini diterjemahkan Scott ke dalam nasib manusia, lebih tepatnya, menukik jauh ke psikologi manusia. "Dalam penggambaran Scott, kebutuhan akan sejarah selalu merupakan sebuah hasil, bukan suatu anggapan; itu merupakan atmosfer tragis dari sebuah periode, dan bukan obyek refleksi seorang penulis," Lukács menyimpulkan.


Dalam novel sejarahnya, Pramoedya juga menampilkan tokoh "orang-orang biasa" (meski dalam Arok Dedes, Pramoedya datang dengan pahlawan istana). Sejarah dilihat secara totalitas dalam Tetralogi Buru, misalnya.


Dalam kuartet tersebut, Pramoedya tak hanya menampilkan sosok Minke, sang pengubah sejarah. Sosok pahlawan pengubah sejarah telah hadir dalam roman-roman sejarah bahkan mite-mite klasik, juga dalam tradisi romantik. Akan tetapi, dalam Pramoedya, Tetralogi Buru tak hanya merupakan kisah mengenai Minke, tetapi juga mengenai nasib sebuah bangsa, jika tidak bisa disebut nasib bangsa-bangsa (dalam bagian Anak Semua Bangsa diperlihatkan bahwa pergolakan utama kisah ini juga meliputi kebangkitan nasional di China, semangat Revolusi Perancis, kemenangan Jepang atas Rusia, dan lain sebagainya). Pengalaman sejarah tak hanya milik Minke, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Mereka semua merasakan "atmosfer tragis dari sebuah periode" sebagaimana diungkapkan Lukács di atas.


Ini benar, hampir dalam semua karya Pramoedya, tokoh-tokoh protagonisnya hadir untuk berjuang demi cita-citanya secara gigih, tetapi kemudian secara terpaksa menyerah kepada kenyataan yang ada. Sejarah Pramoedya bukanlah sejarah orang-orang yang menang (kecuali, sekali lagi dalam Arok Dedes). Lihat, misalnya, tokoh Wiranggaleng dalam roman Arus Balik. Juga tokoh Den Hardo dalam roman Perburuan yang, meskipun berhasil melihat kemerdekaan Indonesia yang diidam-idamkannya, harus ditebus dengan sangat mahal oleh kematian kekasihnya di depan mata.


Pramoedya sering kali memang tidak menempatkan karya sastranya dalam semboyan atau teriakan tentang cita-cita yang muluk. Yang terpenting bagi dirinya adalah bangkitnya kesadaran pembaca (masyarakat) akan tanggung jawab sebagai manusia untuk keadilan dan kebenaran.




* Bentara, Kompas, 5 Agustus 2006
sumber: http://ekakurniawan.com


Published by Anonymous on 25/Dec/2007
05 Aug 2006 01:16:54 pm

READ MORE - Realisme Pramoedya Ananta Toer